April 10, 2014
December 10, 2013
Sejenak saja.
Sejenak saja.
pejamkan mata tuk sekedar getarkan jiwa.
yang mungkin sedang jauh berkelana tanpa asa
Sejenak saja.
ku tanya, untuk apa Tuhan hadirkan aku?
betapa Maha Anggun membiarkan aku berkelana di jagat raya.
Sejenak saja.
aku terkesima, betapa Tuhan tak mengajariku selain cinta.
Sejenak saja,
aku terjatuh, saat jiwa ini terasa rapuh.
Sejenak, aku sadari..
semuanya singkat sekali,
termasuk kau hamparkan aku disini.
dengan tugas yang gunung-gunung pun tak berani mengembannya.
Tapi kami, manusia telah berjanji.
menjadi khalifah di muka bumi.
dan
sejenak saja,
aku renungi, sudahkah aku melaksanakan tugas itu?
Bukankah Engkau menjanjikan cerita yang indah kelak?
dan sejenak saja,
Tuhan, aku meminta, izinkan aku ikut dalam barisan-Mu.
barisan umat Nabi-Mu.
karena aku terlalu rapuh,
apalagi berharap bertemu dengan-Mu.
walau, sejenak saja.
-merindukan suasana itu-
in my green room
Jakarta, 10-12-13
pejamkan mata tuk sekedar getarkan jiwa.
yang mungkin sedang jauh berkelana tanpa asa
Sejenak saja.
ku tanya, untuk apa Tuhan hadirkan aku?
betapa Maha Anggun membiarkan aku berkelana di jagat raya.
Sejenak saja.
aku terkesima, betapa Tuhan tak mengajariku selain cinta.
Sejenak saja,
aku terjatuh, saat jiwa ini terasa rapuh.
Sejenak, aku sadari..
semuanya singkat sekali,
termasuk kau hamparkan aku disini.
dengan tugas yang gunung-gunung pun tak berani mengembannya.
Tapi kami, manusia telah berjanji.
menjadi khalifah di muka bumi.
dan
sejenak saja,
aku renungi, sudahkah aku melaksanakan tugas itu?
Bukankah Engkau menjanjikan cerita yang indah kelak?
dan sejenak saja,
Tuhan, aku meminta, izinkan aku ikut dalam barisan-Mu.
barisan umat Nabi-Mu.
karena aku terlalu rapuh,
apalagi berharap bertemu dengan-Mu.
walau, sejenak saja.
-merindukan suasana itu-
in my green room
Jakarta, 10-12-13
November 04, 2013
Berkorban (?)
Pagi itu, tepat hari yang begitu agung dan mulia, yap
bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Hari dimana nilai ketaatan menjadi hal
yang utama dibanding perasaan atau hawa nafsu. Itulah yang dirasakan Nabi
Ibrahim saat akan menyembelih putranya, Nabi Ismail. Nilai ketaatan beliau pada
Allah jauh melampaui rasa sayang pada putranya, bukan tak sayang, justru karena
rasa yang sudah begitu dalam maka beliau rela melakukan hal yang jelas akan menyakitkan
hatinya. Pada hari tersebut pula, tepat aku harus merelakan diri, menundukkan
nafsuku untuk tetap berada di kampung halaman dan memilih untuk pergi merantau.
Kembali ke tempat pembelajaranku.
Hai kamu, sang bunda dan ayahanda... :)
Kau tahu? Ada mimik lelah
Tak lama setelah selesai shalat idul adha, telfonku
berdering. Itu dari pihak travel, yang akan mengantarkanku hingga sampai di
tempat tinggalku di jakarta. Mereka memastikan bahwa perjalanan akan
dilaksanakan bada magrib.
Sampai tibanya travel, aku langsung bersalaman dengan kedua
orang tuaku meminta doa mereka dan langsung masuk ke dalam mobil. Perjalanan
pun terus kami lalui hanya diiringi alunan musik dan semua terdiam, kecuali 2
orang teman dekat disampingku yang masih asyik berbincang.
Sesampainya di jakarta,aku menjadi bagian yang agak akhir untuk
tujuanku. Sang Ibu, salah satu penumpang travel, tiba-tiba membuka perbincangan
dan mulai bercerita tentang dirinya dan perasaanya. Sedikit banyak yang ku
tangkap dari penyampaian beliau bahwa beliau adalah seorang nenek dan kini akan
mengunjungi rumah sang anak dan cucu.
Aku tersenyum simpul, betapa
bahagianya nenek yang akan melihat cucunya. Begitu bisik hatiku. Tapi semua
berubah saat aku melihat raut wajah yang tak biasa, justru malah jadi
mengernyitkan dahi. Mungkin sang nenek faham bahasa mimik itu dan aku hanya
diam, lalu beliau melanjutkan. “saya merasa malas sebenarnya untuk pergi ke sini,
saya kadang merasa sangat lelah karena tugas saya adalah menjadi babby sitter”
keluh sang nenek. Spontan saya beristighfar dengan pernyataan itu, entahlah
sepertinya ada yang keliru. Kami pun melanjutkan perbincangan.
Setelah panjang lebar beliau bercerita
ternyata anak dan menantu beliau bekerja. Mereka mempunyai rumah yang besar,
bisa dibilang orang kaya, tinggal di komplek yang elite. Mereka berdua orang
yang super sibuk sehingga butuh bantuan untuk merawat anak pertama mereka. Yang
mereka percaya adalah ibunya/nenek dari cucunya. Sang nenek yang luar biasa ini
tetap datang ditengah rasa lelahnya. Ia mengorbankan rasa lelahnya itu hanya
karena kasih sayang yang dalam bagi sang anak dan cucu.
Nilai pengorbanan yang dalam dibalik rasa pilu nya. Walaupun ia tau, tak sepantasnya ia mengeluhkannya. Hanya titik jenuh itu kadang tumbuh, begitu ungkapnya.
Hai kamu, sang bunda dan ayahanda... :)
Kau tahu? Ada mimik lelah
Tapi gelisah yang kemudian berlabuh menjadi pasrah
Tak diungkap dengan diksi karena ia rasa terlalu kelu
Pilihan memaksa ia harus ada di tempat itu
Melewati batas pilu
Kau tahu? Cinta itu memberi
Tidak pada janji ataupun ilusi
Namun sayang sekali tak kau sadari
Ada jiwa yang perlu diobati
Pernahkah kau tanyakan kabarnya?
Sedetik saja
Hanya berharap kau tahu, jeritan hatinya
Atau kau bisa gunakan bahasa jiwa
Agar kau tahu
Ada hati yang tulus tapi tak semulus nalarmu.
--- dalam perenungan momentum hijrah ---
@ DT Bandung 041113
July 05, 2013
Thanks T.T
Dear Mom and Dad, first though, I wanna say.... "overall, thank you for believing in me!"
You always inspire me to do my best and support me in every decision I've made. I hope that my life's work serves as testament to the considerable time and effort they've put into raising me.
Words cannot begin to describe my appreciation and gratitude for all you have done. Your love and support has helped me through life.
Miss you, my parents... T.T
in this overtime at my office
Jakarta, 050713
Words cannot begin to describe my appreciation and gratitude for all you have done. Your love and support has helped me through life.
Miss you, my parents... T.T
in this overtime at my office
Jakarta, 050713
June 14, 2013
[without title >,<]
Just wanna put a bunch thinking on my mind now. I'm thinking about idealism and reality.. what the best should I choose? [still hope to find the best one *sigh*]
Actually... when I have passed the final exam at IPB [Bogor Agricultural University], I had ever made a perfect mindset though that I wouldn't do the job in one of private company moreover multinational companies in Jakarta. That statement ever I talked to someone. I have ideal plans of my future. I realize that all of my plan still raw :( although I still confident to do that all well.
I talked to my parents about all of my plans, but so many reasons that I had to think again twice or more about anything of my plans clearly and carefully. Then once time, I just looked at the TV, just a glance, I catched some messages when I was looking at the real face of my mom. There was the warm words said to me that I have to face the world by myself and prove sooner my love to her. Then I was choosing to make the other decision when I got the offering from my lecture due to the job as a project position in one of the big company in Indonesia.
Apparently, that's my reality which I must deal with it, kindly. [#force :p]. I considered my decision carefully due to all of my future, although I have still thought about it until now. I just keep my intention on the right path. I hope.
Yaaaaaahhhh.... anything happens in my life, I just hope, Allah hugs me always everywhere :3
----at my office when sesi sesi gabuuuut >.<------ i="">------>
Subscribe to:
Posts (Atom)
